Kisahku Waktu Gempa Mengguncang Kota Padang

Hari itu tanggal 3o september 2009 jam 16.00 wib aku dan teman ku (ayu) dari kampus pulang kuliah setelah bercanda gurau dikampus kita berdua pulang ke kosan, sampai di kosan ayu aku nanya "jadi gak k jati..?? mau sekarang, sore, malam ato besok pagi j..??" (kebetulan malamnya ayu sms mau di antarin ke jati"JL.Perintis Kemerdekaan")ayu jawabnya "sekarang jam berapa...??" jam 16.10 kata ku", "siap mandi, sholat, kita berangkat y kata ayu", "jam 17.00 j y kata ku", setelah itu aku ke kost langsung mandi dan siap2 mau berangkat aku tidak jadi sholat(kebetulan jam udah 16.56. jarak kosan aku dan ayu kebetulan cuma dekat jadai jam 17.00 kita berdua berangkat ke jati tempat temannya ayu yang kostnya disana.

Kita ke jati lewat jalan tunggul hitam kebetulan waktu itu ayu hanya makai helm kecil jadi kita takut kalau nanti di tangkap pak POLISI, maklumlah bulan tua lagi bokek2 nya. Setelah kita sampai di gunung pangilun (jl. Gajah Mada) aku liat orang2 pada keluar rumah dan ber diri di tepi2 jalan, dan beberapa menit setelah itu kita berdua diguncang dengan sangat kuat serasa lagi bawa motor di atas perahu, aku liat rumah2, tiang listrik, bergoyang sangat kuat sekali lalu ayu ngomong seperti tertahan "sebaiknya kita berhenti dulu deh" pas aku berhenti aku digoyang2 seperti mau jatuh dari atas motorku.

Gempa yang berdurasi antara 1-2 menit tersebut merubuhkan toko-toko dan rumah-rumah yang ada di sekeliling ku dan aku menyaksikan bangunan-bangunan itu rubuh setelah gempa satu persatu rubuh dan rata dengan tanah. melihat bangunan yang rubuh itu aku langsung pergi mencari daratan tinggi untuk menyelamatkan diri kalau nanti datang tsunami, karena sirine tanda tsunami terdengar begitu kuat.

Dalam perjalanan dari gunung pangilun aku banyak sekali meliat kejadian2 aneh atau kejadian apalah namanya setelah gempa tersebut mulai dari perkelahian karena semua pada panik, sabar dan tabah tetap di rumahnya yang sudah roboh, bapak2 yang keluar dari warungnya dan meninggalkan warung dalam keadaan terbuka dan diambil orang barang2 di dalamnya, pokoknya banyak sekali kejadian2 yang membuat aku jadi terharu dan sedih walaupun tubuhku ini menggigil sekali rasanya tidak kuat buat berdiri.

Sampai di ampang bensin motorku habis dan yang jual bensin pun sudah pada lari mau didorong susah karena jalanan sudah macet, aku dan ayu mencari cari orang yang mau mendorong motorku ini kalau benar2 tidak mau hidup nantinya karna bensin sudah habis betul, aku terus berjalan pelan2 karna memang harus pelan2. aku melihat ada yang jual bensin pas aku tanya "bensin ada pak...?" "ndk ado lai nak ko untuak onda apak lai" begitu jawaban bapak yang jual bensin tersebut. lalu aki melihat di seberang jalan ada yang jual bensin dan aku pun membelokkan motorku ke arah sana dan bapak yang jual bensin tanya berapa liter? dua pak kataku, terus bapak itu tanya "dari mana nak...?" dan aku pun langsung jawab dari air tawar kataku, trus bapak tu tanya lagi parah y di air tawar...?? aku pun menjawab tidak tau pak aku tadi dari gunung pangilun dan rumah2 banyak yang rubuh.

Setelah bensin motorku siap diisi dan uang pun udah aku kasih aku langsung pergi dan sampai lah aku di rumah Ahmad Wira Dt.Diko salah satu dosen IAIN Iman Bonjol Padang beliau Merupakan orang satu kampung dengan ku dan aku liat rumahnya sudah rubuh dan satu mobil digarasinya terperangkap beton2 rumahnya sendiri, aku melihat dia dan ke tiga anak nya di luar ruangan sambil menggendong salah satu anaknya yang paling kecil tapi aku tidak melihat istrinya. aku tidak berhenti disana karena aku takut akan tsunami maka aku terus mencari daerah yang paling tinggi, jalanan aku lihat sudah retak2 dan air pam keliar dari sela2 jalan. Sampai di perempatan jalan Bypas menuju kampus UNAND kaki ku Di injak2 orang dan juga di lindas oleh mobil entah mobil siapa aku tidak tau lansung saja aku tonjok mobil tu sampai penyok2 dindingnya dan supirnya pun melihat dan dia cuek aja nampaknya maklumlah orang2 pada ketakutan semua.

Sampai di Kampus UNAND di Limau manis aku melihat orang sudah pada rame banget di depan rumah masing2 dan juga aku melihat anak2 kost yang shock dan jatuh pinsan ternyata kampus UNAND pun tak luput dari guncangan gempa aku pun lansung berpikir kampus aku sendiri bagaimana y?? UNP ku tercinta. Pasti lebih parah dari ini karena kampusku terletak di dekat laut.

Jam telah menunjukkan 18.35 dan azan magrib pun berkumandang, aku mencoba untuk menghubungi keluarga di rumah dan tidak bisa semua kartu seluler pun aku coba tuk menghubungi tapi tetap tidak bisa sampai akhirnya batterai hhp ku low, ayu pun demikian berusaha untuk mencoba menghubungi keluarganya tetap tidak bisa akhirnya hp ayu mati dan aku pun memindahkan kartu hp ayu ke hp ku, setelah di coba kembali masih tetap tidak bisa, mungkin karena jaringan yang rusak akibat gempa tapi waktu itu sinyal di hp ku masih ada bahkan sinyal 3G masih tetap ada tapi tidak bisa digunakan dan kami berdua pun pasrah.

Sambil menunggu teman-teman ku yang lain dari bawah (air tawar) kami berdua mengelilingi kampus UNAND dan melihat gedung-gedung yang hancur di kampus tersebut, setelah selesai kamipun duduk di depan rektorat UNAND dan melihat langit hitam kelam beberapa tetes air hujan pun mulai turun, anak-anak asrama UNAND sangat rame mengarah kepada kami berdua dan akupun bertanya ke pada salah satu mahasiswa itu " ngungsi kama diak..??" dan mereka pun menjawab bahwa akan mengungsi ke mesjid kampusnya karena asrama mereka sudah tidak bisa di huni lagi.

Air hujan pun semakin banyak turun disertai angin kencang membuat kami berdua jadi kedinginan kami berdua tidak ada yang memakai jaket karena kami tidak ada persediaan untuk mengungsi, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke bawah baru sampai di depan Bank BRI pasar baru aku melihat Oki noven teman satu kuliah ku di UNP setelah bertemu dengan dia angga dan yudi pun datang dan mereka menceritakan apa yang terjadi di UNP karena mereka kuliah pada sore gempa itu terjadi.

Kami berlima pun akhirnya pergi kesebuah toko di seberang jalan untuk berteduh karna hujan sangat deras dan angin pun kencang membuat kami semakin takut, hujan pun tidak kunjung reda sampai jam menunjukkan 21.15. seorang bapak dan istrinya pun datang dengan sepeda motornya lengkap dengan perlengkapan untuk mengungsi, aku dan ke empat temanku itu memutuskan untuk mengungsi di depan emperan toko tersebut, akupun mencari-cari karton buat alas untuk tidur setelah dapat beberapa karton ayu pun aku suruh buat tidur karna hari sudah sangat malam aku lihat dia begitu kelelahan. bapak dan ibu tadi pun sudah tidur aku lihat waktu itu sudah jam 01.07 wib.

Aku, oki ,yudi dan angga pun ngobrol untuk menghilangkan rasa ngantuk sementara ayu sudah tidur di samping ku, aku lihat bapak tadi masih tidur-tidur dan akupun mengajak beliau untuk ngobrol, angga pun melihat beberapa cewek yang juga mau berteduh di tempat kami dia pun ngobrol dengan salah satu cewek tersebut oki dan yudi pun kemudian ikutan ngobrol dengan mereka. akhirnya akupun tidak tahan lagi karena dingin dan ngantuk aku tidur di samping ayu (eep...hanya tidur lho). walaupun akhinya aku juga tidak mau tidur dengan tenang karna bising dan juga nyamuk sangat banyak aku berpikir seperti ini kalau jadi gelandangan, sungguh sangat memprihatinkan.

Jam 03.00 Ayu terbangun dan mau ke wc aqpun mengantarnya, Bank BRI waktu itu merupakan tempat pengungsian bagi sebagian warga dan di mesjid nya sangat ramai. ada yang sudah tidur, ada yang masing ngobrol2 dan ada juga yang dengerin musik dengan hpnya. di mesjid itu dan di Bank BRI lampu menggunakan ganset jadi tidak gelap-gelapan seperti kami.setelah itu aku kembali ke emperan toko dimana disana aq lihat angga dan yudi dan oki telah tertidur beralaskan koran dan kardus.aq tidur kembali tetapi ayu belum karna nyamuk dan dingin yang begitu sangat juga angin kencang dan hujan kala itu sudah agak reda.

Azan subuh terdengar dan aq bangun oki ternyata juga sudah bangun karena dingin ayu juga sudah bangun, aku dan oki ke mesjid untuk sholat subuh sampai disana orang2 sangat ramai pagi itu aku dan oki hanya sholat di teras tanpa sejadah hanya lantai keramik mesjid itu yang kami bersihkan terlebih dahulu. setelah selesai sholat ternyata banyak mahasiswa UNP berada disana ada sebagian yang masih tidur ada yang sudah siap sholat dan oki pun menanyakan bagaimana keadaan kampus kita karena mereka waktu gempa terjadi berada dikampus dan mereka pun menceritakan bagaimana bisa sampai kesini, dan menceritakan bagaimana gempa menghancurkan gedung rektorat UNP dan beberapa lokal kuliah kami di Fakultas Ekonomi.

Setelah itu aku dan oki kembali ke tempat dimana ayu tinggal sendirian, sampai di tempat satpam Bank BRI kebetulan di pos satpam itu ada televisi disana aku dan beberapa orang lainnya melihat kehancuran kota padang akibat gempa yang berkekuatan 7,6SR. disana diberitakan kalau korban akibaat gempa yang berpusat di pariaman tersebut 76 orang dan ratusan lainnya di kabarkan meninggal dan ribuan rumah hancur dan rata dengan tanah. setelah menonton tv tersebut aku kembali ke seberang jalan tmpat toko kami menginap tadi malam.

Sesampai disana angga dan yudi ternyata sudah bangun aku mnceritakan apa yang aku liat di tv di pos satpam tadi kepada mereka,dan beberapa menit setelah itu akupun baru teringat akan teman2 dan para sahabatku juga keluarga yang ada di padang akupun langsung berpikiran apakah mereka masuk dalam 76 orang yang tewas tersebut? akupun jadi bingung dan sdih tak tau harus kemana mencari mereka sedangkan sinyal hp pun masih belum normal di hpku sendiri memang ada sinyal tetapi tak bisa digunakan sdangkan di hp lainnya tidak ada sama sekali, hujanpun kembali turun dan dingin semakin mencekam.

setelah jam 07.30 wib kami semua membuat keputusan untuk kembali ke kosan masing2 untuk mengambil barang2 dan langsung pulang kampung. Waktu perjalanan pulang kembali ke kosan setelah melewati Jl Andalas Tampak lah bangunan2 yang rubuh, masjid, dealer2, motor, mobil hancur tertimpa bangunan yang roboh. Sampai di Jl Perintis Kemerdekaan (JATI) RSUP M Djamil pun rubuh dan di rintik2 hujan pagi itu para pasien tampak banyak kesana di antar ojek dan kendaraan lain karena ambulance tidak bisa keluar karena macet total di sepanjang jalan itu, Tenda darurat pun sudah berdiri disamping bangunan RS yang rubuh. Sesampai di jalan Sudirman Kantor Gubernur SUMBAR pun di obok2 gempa. Kantor BPKP yang baru siap di perbaharui karena gempa tahun kemaren sekarang sudah rusak kembali, kantor Taspen rata dengan Tanah. bimbel LIA di depan BPKP rata dengan tanah, Sampai di Jalan Khatib Sulaiman Seluruh Kantor pemerintahan yang ada di sana rata2 rubuh. seperti kantor BAPPEDA, SAMSAT, DINAS PU,dan masih banyak yang lain. RS selasih ambruk dan beberapa dealer2 mobil yang ada disana.

Sampai di air tawar depan Hotel BASKO disana aku liat masih baek2 aja mungkin karena bangunannya yang masih baru atau konstruksinya yang kokoh karna Hotel Tersebut baru siap di bangun beberapa bulan yang lalu, GRAND MALL pun masih baek2 tapi itu kelitan dari luar tapi di dalam nya aku tidak tau. Sampai di Kampus tercinta UNP terlihatlah gonjong rektorat yang dahulunya berjumlah lima tapi sekarang hanya tinggal tiga gonjong samping kiri dan satu samping kanan sudah ambruk. Sedangkan Kampus FE sendiri Fakultasku ternyata sangat parah, ruang dekan terpisah dengan TU yang biasanya setali sekarang sudah terpisah dan beberapa kelas di dalamnya sudah ambruk dinding pembatas antara PRODI dan ITC rubuh. Disana aku juga liat Dekan Fak Ekonomi berada di depan kantornya sambil melihat2 keadaan kampus. Tapi Gedung kampus FE yang baru siap di dikin separoh keliatannya tidak apa2 retak2pun tidak tampak.

Setelah mengelilingi sekitaran kampus sampailah di kosan ayu dan disana aku bertemu ane (temanya ayu) dan kemudian da noves (pc ane)setelah bercerita2 kemana lari pas gempa kemaren. dan beberapa menit kemudian gempa kembali menguncang walau tidak sekuat kemaren tapi yang namanya takut gmana lagi,(gempa di jambi jam 09:00)aku pun pulang k kos di kosanku tidak ada satu orang pun mungkin mereka masih mengungsi dan pintu kamar di biarin terbuka aku masuk ke kamar di sana aku lihat semua barang2 sudah berantakan dan tv sudah dilantai karena rak nya tumbang aku lihat ternyata tv itu masih utuh tapi tak tau apa masih bisa menyala atau tidak. dinding kamarku memang ada retak2 baru dan retak2 karena gempa yang lalupun semakin besar aku simpan barang2 dan baju2 aku langsung pergi kembali ke kosan ayu.Disana kita berempat ane,noves,ayu dan aku berancank2 mau pergi kemana lagi karena tidak mungkin berada di padang dalam keadaan seperti ini dan jalan untuk kita pulang kampung putus (jalan silaing)dan kabar yang beredar pagi itu jalan ke solok pun putus akibat longsor (jalan sitinjau lauik) dan jalan ke pesisir selatan pun putus jadi kita terperangkap di kota padang yang telah hancur dan porak poranda.

2 comments:

  1. ka den kan ndak takana ang lai,,,,

    ReplyDelete
  2. haa...haa...
    Lai takana dek den... tapi lah pagi hari nyo....

    ReplyDelete