Selamat Tahun Baru 2015

Selamat tahun baru 2015 saya ucapkan kepada semua. semoga di tahun ini kita semua bertambah berkah. sehat selalu, rezeki nambah, pahala juga nambah.
ini beberapa pesta kembang api di kota Bukittinggi di malam  pergantian Tahun 2014 ke 2015 jam 00:00 wib






Punden berundak-undak (Stone Banta) at Padang Kandi Village

In the book Natural Minangkabau culture (BAM) Punden berundak are some stone blocks arranged berundak. Located in the Padang Kandi Kenagarian VII Koto Talago Kec.Guguak Kab.Limo Puluah Payakumbuh-town West Sumatra. Is the only one in the Minangkabau.

One piece of stone blocks measuring 40 x 40 cm. Sekitara six meters in length. At the bottom layer was composed of as many as eight beams.

In the second layer is also composed seven pieces of stone blocks, at the third layer composed of six pieces, the fourth layer composed of five pieces
and so on. Until a beam placed on top.

By the Society of desert kandi punden berundak or better known as STONE BANTA has several legends. As with any legend Menhir in Mehat, excl. Bukitbarisan kab.Lima twenty cities, West Sumatra.

So the fruit punden berundak
eight-level need
stone blocks as much as 8 + 7 + 6 + 5 + 4 + 3 + 2 + 1 = 36 pieces of stone blocks.
When viewed from the side, looks
like Punden staircase steps stone stairs serves as a place to hold a serving-dish for people who are still ancient religion of animism and dynamism of yore.

With the aim to avert danger
or some kind of disaster such as earthquake, wind seized, infectious diseases and so on. And also as requested mercy of the ESA. As for rain, soil fertility requested
and so on.


stone banta at padangkandi

Kawah Biru Pekanbaru Yang Fenomenal

Beberapa hari belakangan ini, para netters Pekanbaru dihebohkan oleh kawah biru yang beredar di berbagai media sosial seperti: BBM, Path, Twitter maupun Facebook. 
Kawah Biru sendiri merupakan sebuah tanah berpasir putih yang di genangi air hujan sehingga menjadi seperti kawah berpasir putih dan air biru. Fenomena ini kemudian tersebar dari mulut ke mulut, terutama di kalangan anak muda yang ingin menyaksikan keindahan panorama alam ini serta menjadikan lokasi ini sebagai foto profil di akun media sosial.
Kawah Biru sendiri terletak di tanah kosong milik karyawan PLN yang tak jauh dari hotel labersa Desa Tanah Merah, Siak Hulu, Kabupaten Kampar. Masyarakat Kota Pekanbaru tampaknya sungguh haus akan objek wisata. Seperti fenomena "Kawah Biru" yang berada tak jauh dari Hotel Labersa, Pekanbaru. 
Kini sedang santer jadi perbincangan orang. Karena wisata di Pekanbaru yang memang minim, sehingga banyak pengunjung terutama kawula muda yang datang kemari. Apalagi fenomena kawah biru ini memang jarang dijumpai, maka tak ayal banyak orang yang penasaran ingin melihatnya. Adapun biaya parkir per motor dikenai Rp 5000 dan Rp 10000 per mobil oleh beberapa tukang parkir “dadakan”.
Pengunjung dari luar daerah juga banyak yang datang. "Ada juga yang dari Rengat, Duri, Kampar, paling banyak Pekanbaru.
Untuk menuju lokasi wisata dadakan ini, aksesnya cukup mudah. Dari pusat kota Pekanbaru, tinggal masuk dari Jalan Parit Indah, lalu ikuti jalan aspal yang menuju Labersa. Kemudian terus saja hingga masuk ke Gapura Perumahan Griya Tika Utama lalu belok kiri. Sekitar 300 meter jalan aspal akan dijumpai tonggak perumahan berwarna orange sebelah kanan. Tinggal ikuti jalan tanah itu lalu berjumpalah dengan si Kawah Biru.
Hmmm, jadi penasaran nih pengen kesana. Ada yang udah kesana..? saya sudah lho...tgl 5/9/14 kemaren kesana lihat kayak mana kawah biru yang jadi fenomena di pekanbaru tersebut... Lokasi wisata dadakan ini, tidak ada hubungannya dengan kawah gunung merapi dan sebagainya. Hanya bekas galian tanah yang digenangi air tampak biru. Di situ tampak pula plang yang bertulis tanah tersebut dimiliki karyawan PLN. 
Sedikit kecewa karena berharap di situ ada tempat yang indah selain melihat air biru. Tapi hanya itu tok saja... Hahahahaaa Tapi saya juga poto-poto lah disana...hehehe 

ini dia lokasinya



 ramainya sangat

ini anak yang selalu mandi dan main pasir disana


ini baru saya lho... hehe


buat selfie2 an juga.. hahaha



Air Terjun Lubuak Bulan Yang Tersembunyi


Jika anda penyuka wisata alam, pernahkah anda menemukan objek wisata air terjun yang tidak diketahui kemana aliran air selepas jatuh dari ketinggian? Percayalah, ini bukanlah  mengada-ada.
Bila anda tidak percaya, angkat ransel, bawa bekal secu­kupnya, mari seharian kita datangi anugerah Tuhan pada alam yang terletak di belantara hutan Jorong Kototinggi Kubang Balambak, Kenagarian Simpang Kapuak, Kecamatan Mungka, Limapuluh Kota ini.
Namanya Aia Tajun Lubuak Bulan. Konon, nama itu diberikan warga karena areal tempat air jatuh tersebut menyerupai bentuk lingkaran. Dalam lingkaran terdapat batu-batu melebihi besar kubah masjid. Air yang  terjun dari punggung bukit ketika sampai ke curam lembah, tidak disambut oleh aliran sungai, melainkan di­sambut dan dipecah oleh bebatuan besar tersebut. Ajaibnya, setelah sampai di bebatuan, air tersebut menghilang seakan langsung ditelan perut bumi. Kemana pun mata meno­leh, Anda tidak akan menemu­kan sungai di sekitar lembah air terjun itu.
Untuk sampai ke air terjun ini, memang perlu sedikit mela­kukan petualangan. Tapi bagi anda yang suka lintas alam tentu perjalanan menuju lokasi air  terjun Lubuak Bulan menjadi satu pengalaman seru pula. Sebab, sebelum sampai ke air terjun anda akan disuguhkan dahulu rentetan pemandangan yang menakjubkan. Berangkat dari pusat kera­maian pasar tradisional Keca­matan Mungka, dengan jarak 10 kilometer kita bisa raun-raun dengan motor. Sepanjang perja­lanan anda akan dapati hamparan sawah  yang luas, kolam-kolam ikan, dan tentunya ratusan kandang ayam petelur yang jadi mata pencaharian sebagian besar warga Kenagarian Mungka.
Kemudian selepas jalan aspal, anda mulai memasuki ruas jalan hotmix. Namun, setelah habis ruas jalan itu, saatnya untuk menapaki punggung bukit yang terjal. Maka, diperlukan  nyali besar dan ketangkasan bermotor untuk menempuh jalan tanah yang menanjak, berliku di tebing yang curam.  Tapi, setelah sampai di punggung bukit ini, anda bisa berehat di pasanggrahan. Dari sini anda bisa melepaskan pandangan sejauh mata meman­dang untuk menangkap keang­gunan hijau rimba raya Sumatera yang khas. Oke, tidak perlu lama-lama terlena dengan hembusan angin yang sejuk di pasanggrahan ini, sebab tujuan kita adalah Air terjun Lubuak Bulan yang nasi­hat­kan menempuh 17 kilometer atau memerlukan waktu satu jam perjalanan dengan motor untuk sampai ke lokasi.
Sesampai di pemukiman masyarakat jorong Kototinggi, perjalanan dengan motor terpaksa harus dicukupkan. Sebab, kita terpaksa akan meneruskan perja­lanan dengan jalan kaki. Tapi jangan khawatir dulu, sebab meniti hutan yang masih perawan ini sungguh menimbulkan sensasi yang menakjubkan pula. Di kiri-kanan jalan setapak di bawah pohon-pohon yang menjulang tinggi anda akan temui berbagai  tumbuhan hutan yang melenakan mata. Antara dua hutan, anda akan disuguhi ratusan hektar hamparan tanaman gambir Sehabis membelah ladang gambir kembali masuk belantara pepohonan. Bersiaplah, kita akan menuruni tebing yang curam dan berundak-undak untuk menuju kaki lembah. Belum sampai di lokasi, suara gemuruh air terjun sudah membahana ke telinga. Tidak cukup dua menit, anda akan sampai.
Inilah Aia Tajun Lubuak Bulan. Air terjun yang berke­mung­kinan muncul dari patahan bumi di tengah hutan belantara. Sungguh sebuah pemandangan yang eksotis dengan sedikit rasa  yang purba. Di punggung tebing bagian dalam air terjun, terdapat gua yang terbentuk dari patahan lapisan bebatuan. Dari dalam gua tersebut anda dapat menyaksikan air terjun mengucur seumpama selendang bidadari yang men­juntai ke bumi. Sesampai ke bumi selendang air itu menghi­lang entah kemana. ”Kami sampai hari ini tidak tahu kemana aliran air yang terjun ke bawah ini. Hanya saja di sebuah jorong di bawah bukit ini terdapat sebuah mata air besar yang tidak tampak pula asal air tersebut. Besar dugaan kami ada anak sungai yang mengalir di dalam perut bukit dan tembus di jorong bawah itu,” terang Hadi, seorang pemuda setempat yang biasa memandu tamu ke lokasi tersebut. Bila sampai di hadapan air terjun ini, percaya atau tidak, kita seperti ditawan perasaan untuk tidak meninggalkan tempat itu. Di bawah guanya yang sejuk, anda bisa menghampar tikar atau mendirikan tenda, berkemping menghabiskan hari.

keindahan air terjun lubuak batu bulan


air nya mengalir di bawah tanah




Air Terjun Lubuk Batu Bulan ini mempunyai keunikan tersendiri, dimana kucuran air yang jatuh ke lubuk (kolam) airnya menghilang kebawah.  Fenomena ini dikarenakan dibawah lubuk itu ada goa yang panjang yang langsung menyerap air tersebut.   Air yang jatuh dari air terjun Lubuk Batu Bulan ini dapat di jumpai lagi kira-kira satu kilometer kehilir, dimana air tersebut mengalir kesawah-sawah penduduk. Dengan demikian lubuk di air terjun Lubuk Batu Bulan ini tidak dapat digunakan untuk berenang.  Disini pengunjung hanya dapat mencuci muka dengan cara menampung gemercik air terjun yang jatuh dari sisi tebing batu



Punden Berundak-Undak (Batu Banta) di Padang Kandi VII Koto Talago

Dalam buku Budaya Alam Minangkabau (BAM) Punden berundak-undak adalah beberapa balok batu yang disusun secara berundak-undak. Terletak di Padang Kandi Kenagarian VII Koto talago Kec.Guguak Kab.Limo Puluah Kota- Payakumbuh Sumatera Barat. Merupakan satu-satunya di minangkabau.

Satu buah balok batu berukuran 40 x 40 cm. Panjangnya sekitara enam meter. Pada lapisan bawah disusunlah balok sebanyak delapan buah.

Pada lapisan kedua disusun pula balok batu sebanyak tujuh buah, pada lapisan ketiga disusun enam buah, pada lapisan ke empat disusun sebanyak lima buah
dan seterusnya. Hingga pada puncaknya diletakkan sebuah balok.

Oleh Masyarakat padang kandi punden berundak-undak atau yang lebih di kenal sebagai BATU BANTA ini mempunyai beberapa cerita legenda. Seperti halnya legenda Menhir di Mehat, kec. Bukitbarisan kab.Lima puluh kota, Sumbar.

Jadi satu buah punden berundak-undak
setinggi delapan tingkat membutuhkan
balok batu sebanyak 8+7+6+5+4+3+2+1=36 buah balok batu.
Kalau dilihat dari sisi samping, tampak
seperti tangga batu Punden berundak undak berfungsi sebagai tempat mengadakan saji-sajian bagi masyarakat purba yang masih beragama animisme dan dinamisme dahulu kala.

Dengan tujuan untuk menolak bahaya
atau semacam bencana seperti gempa bumi, angin rebut, penyakit menular dan sebagainya. Dan juga bisa sebagai meminta rahmat dari sang ESA. Seperti minta hujan, minta kesuburan tanah
dan sebagainya.